MENGGAMBAR BERSAMA ANAK-ORTU



 
Hari gini, ada anak dengan orang tua bisa menggambar bersama dalam selembar kertas adalah “sesuatu” banget. Sebuah kegiatan yang tidak biasa di era gadget ini, di mana anak dan ayah bunda cenderung asyik sendiri, masing-masing menunduk sibuk dalam dunia maya yang autis.

Tetapi itulah pemandangan yang terjadi di aula Masjid Agung Gresik, Sabtu kemarin. Sedikitnya 300 pasang anak dengan orang tua (ibu/bapak) bekerja sama untuk menghasilkan karya seni rupa di atas kertas A3, dalam acara lomba Menggambar Bersama. Kegiatan menarik ini merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Anak Sholeh 2016 merayakan Tahun Baru 1438 Hijriah.

Menggambar bersama ini tergolong lomba yang menarik dan kreatif. Sebab memadukan aspek seni dan aspek psikologi. Jadi, bukan semata mengadu ketrampilan anak TK B dalam membuat karya seni rupa, tetapi juga menguji kerja sama dan mengulik pola relasi antara orang tua dengan anaknya.

Di saat belum diumumkan juaranya, menurut saya, semua peserta lomba menggambar bersama ini sudah menjadi pemenangnya. Ya, mereka menang, karena telah sukses berkegiatan dengan anak kandungnya sendiri. Saya yakin sebelum datang ke arena lomba, mereka pasti rundingan dulu, berkoordinasi nanti mau menggambar apa, bahkan sudah berlatih bersama menyiapkan karya dengan tema Keluarga Islami. Bukankah ini sudah sebuah nilai plus tersendiri?

Tetapi di arena lomba tampaknya tidak semua yang mereka rencanakan dapat berjalan mulus. Beberapa peserta anak menangis dan mogok gak mau menggambar (namanya juga anak TK). Apalagi kemudian muncul kejutan dari juri yang mengumumkan mekanisme dan proses perlombaan. Ini mungkin di luar perkiraan mereka.

“Peraturan lomba sebagai berikut. Selama 30 menit pertama, peserta yang boleh menggambar hanya anak-anak. Sendirian. Baru setelah itu, selama 1,5 jam berikutnya, boleh dikerjakan bersama-sama. Ingat ini Festival Anak Sholeh, jadi marilah anak-anak kita beri kesempatan menuangkan gagasan dan kreasinya terlebih dahulu selama 30 menit, setelah itu baru ayah atau bunda boleh bergabung membantu. Okey…!,” kata seorang juri.

Melalui lomba ini kita bisa melihat gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana pola relasi anak dan orang tua saat di rumah. Lihatlah, ada beberapa pasangan peserta yang bisa bekerja dengan harmonis. Muncul suasana demokratis, ketika anak diberi keleluasaan penuh menggoreskan krayon sementara ibu/ayah memberi sentuhan di sana-sini, merapikan warna, menambahkan ide, serta usulan tambahan gambar baru.

Sementara pada pasangan lomba yang lain diwarnai dengan eyel-eyelan, mungkin karena berbeda kemauan dan selera. Sungguh bekerja sama, dengan anak kecil sekalipun, butuh kelapangan hati. Dominasi orang tua juga tergambar jelas di arena ini, terutama pada mereka-mereka yang langsung mengambil alih semua pekerjaan menggambar. Anak cuma diperankan sebagai penonton. Karena itu wajar jika si anak jadi cuek lalu bermain-main sendiri.

Bahkan  saya menyaksikan  ada peserta yang dengan semena-mena menghapus karya yang dibuat putranya selama setengah jam yang lalu, kemudian menggantinya dengan gambar yang sama sekali baru sesuai dengan hendaknya. Diam-diam saya menyaksikan sosok orang tua yang tengah menindas anaknya (demi merebut piala juara pertama  dan uang tunai Rp 750 ribu?). Sungguh memberi kepercayaan kepada anak-anak untuk menuntasan gagasannya butuh penguasaan diri, perlu kemampuan menahan ego pribadi.

Dari aneka pola relasi tersebut saya juga melihat pemandangan yang cukup memprihatinkan.  Di antara ratusan peserta itu ternyata masih banyak yang melakukan kecurangan. Seperti “mencuri start”dengan menyicil  menggambar sebelum bel dimulai, mencontek gambar dari gadget, hingga sibuk mendikte anak yang sedang asyik mengawali gagasan pada 30 menit pertama.

Dalam lomba ini, ada ketentuan yang boleh berlomba adalah dua orang: anak dan salah satu orang tuanya. Tetapi dalam praktiknya ada juga peserta yang mengerahkan seluruh anggota keluarganya. Sambil sembunyi-sembunyi  dari pantauan juri, ibu dan bapak ikut nimbrung mengerjakan. Kakak juga ramai-ramai menorehkan krayon (mengapa nenek dan kakek tidak diajak sekalian?). Sebuah potret keluarga yang ambisi mendapatkan kemenangan, sampai rela menanamkan bibit ketidakjujuran kepada anaknya yang masih TK.

Akhirnya, salut kepada Takmir Masjid Agus Maulana Malik Ibrahim Gresik yang telah mencetuskan lomba unik dan edukatif ini.  Rupanya lomba Menggambar Bersama antara anak dengan orang tua butuh kesiapan dari para peserta lomba. Dan ternyata yang belum siap justru para orang tuanya. (adrionomatabaru.blogspot.com)



  

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Anonymous
AUTHOR
October 5, 2016 at 2:23 AM delete

menggambar bersama anak dan ibu terlihat unik, karena tidak bisa menampung utuh pokok pikiran seorang anak atau ibu. Gambar tidak bisa ditunjuk sebagai karya probadi seorang anak atau ibu. Ini adalah karya kolaborasi yang banyak dilakukan para perupa yang sering kolaborasi dengan pejabat,politisi,pengusaha, teknokrat dan lainnya.Menggambar bersama bentuk pendidikan karakter yang menanamkan semangat kebersamaan, kerjasama dan saling toleran. Nilai-nilai itulah yang kelak memberi setitik harapan pada masa depan anak yang akan mengarungi kehidupan nyata setelah belajar teks-teks di dalam kelas. Kegiatan ini,bisa menjadi contoh yang lain untuk menggerakkan harapan hidup baru dalam diri anak-anak yang kita cintai.

Reply
avatar