MERAYAKAN MASA LALU

 


 Sekali tempo kita perlu memasuki lorong waktu, guna melongok masa lalu. Dan salah satu cara mudah yang dapat dilakukan adalah menghadiri pertemuan reuni. Seperti yang kami lakukan, para alumi SMP Islam Lawang di Hotel Solaris, Karanglo Malang, Ahad kemarin. 

Begitu bertemu dengan teman-teman seangkatan, waktu seolah mundur ke masa 45 tahun silam. Ketika kami yang cupu sama-sama sekolah di SMP yang letaknya persis di depan gaden. Di era  1977,  meski sekolah kami berlabel Islam, seragamnya belum syar’i-syar’i amat. Ceweknya tak pakai jilbab. Semua siswa pada kelihatan dengkulnya, lantaran celana maupun rok seragam masih di atas lutut. 

Seperti reuni pada umumnya, acara pasti berlangsung seru, meski acaranya berlangsung seperti lazimnya pertemuan alumni. Semua ribut bertemu dengan temannya, melebur kangen, saling berbagi kabar, dan ngobrol sendiri-sendiri. 

Beruntung kami punya duet pembawa acara yang mumpuni dan entertain berbakat. Sirojil Munir dan Lutfi Sukri lihai menggiring suasana hingga peserta dapat fokus pada acara. Sungguh ini tidak mudah dan butuh jam terbang tinggi. Walhasil mengalirlah suasana gayeng dan hidup. 

Para “remaja tua” itu pun larut dalam kegembiraan bersama, merayakan kembali masa lalu yang indah. Alunan tembang “Joko Tingkir ngombe dawet,” mengajak bergoyang dan sejenak melupakan pikiran yang ruwet agar tidak mumet. 

Tentu kesuksesan acara seperti ini tidak bisa tercipta begitu saja. Di balik semua itu ada kerja keras, ada tangan-tangan ikhlas para panitia yang bekerja menyiapkan segalanya. Butuh kepedulian berlipat untuk bisa menyelenggaran reuni seheboh ini. Butuh korban waktu, tenaga, keribetan, tentu juga biaya. 

Sebelum acara tim panitia juga tak segan mendatangi rumah sejumlah teman yang “hilang” dan tidak tergabung di grup WA  agar bersedia datang. Bukankah ini semua tindakan mulia, menyambung silaturahmi, sebagaimana yang diajurkan Kanjeng Nabi? 

Hasilnya sungguh menggembirakan. Magnet yang tercipta demikian kuat. Dari jauh teman-teman bersedia datang. Ada yang dari Jakarta, Bogor, Palu, dan Garut. Juga dari Bali, Madura, Ngajuk, Malang dan sekitarnya. Sungguh upaya yang patut dihargai. 

Menghadiri reuni adalah menziarahi sepenggal masa lalu, untuk kemudian dibawa pulang ke masa kini sebagai oleh-oleh. Pasti banyak hikmah yang bisa dipetik. Saya sendiri jadi merenungi betapa waktu begitu cepat berlari, tahu-tahu 45 tahun telah berlalu. Apa saja yang telah kuperbuat selama ini? 

Ada bahagia karena masih diparingi panjang usia, sementara sebagian -teman telah wafat, terutama di saat merajalelanya Covid dua tahun ini. Ada sedih karena ada teman yang sedang menderita sakit. 

Tetapi memasuki lorong waktu via reuni juga membawa konsekuensi tersendiri. Tidak melulu bahagia. Selalu ada godaan untuk membandingkan diri dengan keberadaan temans  seangkatan. Bisa jadi terbersit perasaan ”jauh tertinggal” lantas muncul minder karena merasa hidupn kurang beruntung. Atau sebaliknya justru merasa telah “jauh melesat” sehingga diam-diam mengembungkan rasa jumawa. 

Tentu saja semua kecamuk itu harus ditepis agar tidak berkembang kemana-mana. “Kekecewaan yang dipelihara, bisa membuat kita menjadi tidak ridha dengan qada dan qadarnya Allah,” begitu pesan Gus Baha. Chairil Anwar jauh-jauh hari juga bilang: nasib adalah kesendiriaan langkah. Lagi pula dengarlah itu, penyanyi elektone dari tadi sudah berulang kali mengajak, “wong ko ngene kok dibanding-dibandingke, disaing-saingke….” 

Di usia-usia pensiunan selayaknya semua sudah lerem mengendap. Lalu Agustin menyampaikan  pesan bijak dalam sambutannya, “Pada usia-usia kita ini yang penting adalah sehat. Itu yang nomor satu, bukan yang lain.”  Semua peserta reoni koor menyambut, setujuu… 

Tapi toh ada saja yang usil. “Yang nomor satu memang sehat, tetapi yang nomor dua ya tetap duwit..” kata Munir.  Pecahkan tawa.   

Begitulah. Pesan moral yang bermakna pun bisa dipelesetkan jadi guyonan. Namanya juga reuni. (adrionomatabaru.blogspot.com)



 

Previous
Next Post »