TALI ASIH BIOGRAFI

 

Di kampus lazim diadakan acara pelepasan bagi guru besar yang purnatugas, tak terkecuali  di ITS. Tapi ada satu pertanyaan yang gampang-gampang susah dijawab, yaitu, “tanda mata apa yang sebaiknya diberikan kepada sang profesor sebagai penghormatan sekaligus untuk kenang yang berkesan? Tentu ada beberapa opsi jawaban yang muncul. 

Tapi ketika pertanyaan itu dilontarkan kepada penulis Sukemi, dia langsung nyeletuk, “Dibuatkan biografi saja.” Aha, lontaran spontan dalam sebuah perbincangan nonformal itu ternyata bergaung. Buktinya, saat usulan itu disampaikan ke Dekan FSAD Prof Hamzah Fansuri maupun Pak Kajur Kimia ternyata mendapat respons positif dan kemudian ditindaklanjuti. 

Sebuah buku memang relevan dijadikan sebagai tanda terima kasih atas pengabdian dan prestasi seseorang.  Biografi membawa manfaat bagi yang bersangkutan, institusi, maupun khalayak pembaca. Sikap, kiprah, dan pemikiran dari kaum intelektual pastilah mencerahkan dan menginspirasi. 

Bagi kampus, buku biografi staf pengajarnya adalah dokumen berharga sekaligus memuat data rekam jejak perkembangan lembaga. Apalagi keberadaan seorang ilmuwan sekelas Prof Prof. Dr. H. Taslim Ersam, MS, yang mumpuni di bidang kimia bahan alam. 

Maka berbarengan dengan acara pelepasan purnatugas beliau di aula FSAD, Sabtu (3/9) siang, juga dilakukan soft launching buku biografi dengan judul “Sintesa Jalan Hidup.” Acara berlangsung hangat, dihadiri sejumlah guru besar, wakil rektor, dekanat, kolega sejawat, alumni Kimia, dan undangan lainnya. Juga tampak Prof. Warsono (Rektor Unesa 2014-2018) dan Ketua Himpunan Pengusaha dan Profesional Alumni Kimia (Hippakim) ITS. 

Sedangkan saya katut diundang karena menjadi anggota tim penulis Pendar Asa yang terlibat dalam pembuatan buku tersebut, bersama Pak Zaenal Arifin, Mas Sukemi, dan Mas Imung Mulyanto. Saya bergembira karena dapat ikut berkontribusi dalam pemberian biografi bagi The Founding Father of Chemistry ITS itu. 

Prof. Taslim mengabdi sejak 1979 di ITS. Kini kelihatannya bakal menikmati waktu luangnya dengan sangat indah, begitu memasuki usia 70 tahun. Profesor yang satu ini agak beda dibanding guru besar umumnya. Dirinya tidak bersedia diperpanjang tugas mengajarnya selama lima tahun ke depan (dan dapat diperpanjang 5 tahun lagi), meskipun ada peluang untuk itu. 

“Masa selalu berubah. Jadi izinkan saya menikmati kebebasan saya, setelah 43 tahun tidak memilikinya. Karena saya berprinsip, menjalankan tugas itu harus sebaik-baiknya. Jadi kalau bekerja seenaknya  itu berarti melanggar komitmen saya sendiri,” kata dosen yang terkenal superdisiplin ini.   

Ada secuil kisah menarik yang termuat dalam biografi tersebut. Ternyata Taslim muda mengaku pernah merasa minder dengan nama yang disandangnya. Orang tua zaman dullu memang begitu, kalau memberi nama anaknya pendek saja. Orang Minang malah kerap hanya memberi sepenggal nama: Taslim. Titik.

“Waktu di Tanjung Pinang, dari teman sekelas SMP yang namanya satu kata, cuma saya saja,” katanya mengenang. Maka menjelang kelulusan sekolah, dirinya punya momentum untuk menepis minder dengan cara menambahkan nama baru. Lalu dia nekad mengetuk ruang Kepala Sekolah. 

“Pak, diijazah saya nanti, tolong nama saya ditambahi Ersam,” katanya. Ersam itu akronim dari nama kedua orang tuanya. Untung kepala sekolahnya tidak rewel dengan menanyakan akte kelahiran segala. Maka ijazahnyapun berbunyi “Taslim Ersam” dan itu sudah cukup untuk mendongkrak rasa pedenya. 

“Saya sempat mau pakai nama Taslim Serma. Tapi kok seperti sersan mayor. Untung tak jadi, kalau jadi, mungkin saya tidak akan jadi profesor. Tidak ada kan profesor berpangkat serma,” katanya lantas tertawa. (adrionomatabaru.blogspot.com)



Previous
Next Post »