MENCARI OBAT

 

Saya termasuk orang yang sangat terlambat dalam mengamalkan perilaku hidup sehat. Meski sejak lama paham bahwa hidup sehat itu penting. Agaknya pemahaman dengan pengamalan tidak selalu jalan beriringan. 

Apalagi ketika masih muda dulu saya suka bergaya sok seniman. Memuja olahrasa dan kurang minat olahraga. Peduli dengan hal-hal yang berbau pemikiran dan agak abai dengan soal kebugaran. Memandang secara dikotomi naif antara seniman dengan olahragawan. Seniman itu berada di tataran psikis-estetik, sedang olahragawan berkiprah di wilayah fisik. 

Kini, ketika usia meninggi saya mulai menanggung  akibatnya. Penyakit gampang terjangkit. Satu penyakit yang langganan datang adalah asam urat (gout arthritis). Kalau sedang kumat, persendian jadi bengkak dan cekot-cekot. Sulit berjalan, apalagi harus menapaki atau menuruni anak tangga. Untuk ke kamar mandi saja, harus jalan merambat-rambat sambil tangan cari-cari pegangan kursi dan lemari. Pil Allopurinol dan Piroxicam menjadi konsumsi harian, sampai saya khawatir akan dampak jangka panjangnya. 

Menyadari kondisi itu saya jadi menyesal. Ya penyesalan selalu berada di belakang. “Kalau berada di depan namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran,” kata temanku Bambang Bes yang gemar berkelakar.   

Saya jadi iri dengan rekan Budi harminto, yang masih mampu mendaki gunung. Kagum dengan Cikgu Sulami, sobat Rertno, Titis, yang masih kuat gowes mancal sepeda  jauh lintas kota. 

Dalam keterlambatan lantas muncul kesadaran untuk mau  berolahraga. Better late than never. Saya ikut senam asma di GOR Sidoarjo saban minggu pagi. Lumayan hasilnya, sampai kemudian datang pandemi, yang membuat saya berhenti tidak berlatih lagi. 

Beberapa bulan lalu, untuk urusan penulisan buku, saya wawancara dengan guru besar FSAD ITS Surabaya, Prof. Dr. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc. Di sela perbincangan topik utama, beliau sempat mengurai manfaat terapi olah tubuh Ling Tien Kung, yang serius ditekuni. 

Dijabarkan tentang pembangkitan energi, intervensi proses termodinamika dari “energi kehidupan” menjadi proses bolak-balik, hingga mengolah kutub negatif dan positif tubuh dengan cara penegangan otot-otot sekitar anus (empet-empet anus) atau Fu Kang. Penjelasannya yang meyakinkan membuat saya jadi berminat untuk mencobanya (Ah kebacut, butuh penjelasan seorang profesor untuk membuat saya tertarik berolahraga). 

Olah tubuh ini sebenarnya bukan hal baru bagiku. Beberapa temanku, seperti bos Global News Bpk Irfandi Putra menjadi pengurus dan tetanggaku Pak Heru Biantoro jadi pelatih di sana. Akhirnya saya pun mengikuti latihan senam empet-empet itu di Taman Pinang. Dulu saya pernah ikut, tapi baru dua kali latihan sudah bosan. Tapi kali ini saya datang dengan kesadaran baru yaitu ingin golek tamba. Ingin asam urat minggat. 

Baru memasuki gerakan pertama Ling Tien Kung, raga saya sudah diuji. Membungkuk melipat pinggang demi meregangkan otot belakang lutut dan paha. Dilanjut berjongkok disertai gerakan kocok-kocok kecil selama 50 kali. Ini kelihatan sepele bagi orang sehat, tetapi tidak demikian bagi yang terkena gangguan persendian. Saya mencoba mengikuti semampunya, meski terasa agak ngilu. Dilanjut dengan gerakan berikutnya, jinjit-jinjit kaki. Sebanyak 300 kali. Alamak! 

Saya perhatikan sekilas, banyak sekali gerakan yang memainkan kaki dan lutut. Waduh berat, sodara. Tapi saya lantas menghibur diri, jangan-jangan “ilmu titik nol” ini justru jalan kesembuhan bagiku. 

Lihat saja jurus “kaki bangau” itu. Mengangkat satu kaki hingga hitungan 100 kali. Juga ada jurus “jalan bebek”, yaitu berdiri disusul jongkok, dilanjut maju selangkah dalam keadaan berjongkok, lalu berdiri lagi. Lakukan rangkaian gerakan tersebut sebanyak 30 kali. Alhasil keringat mengalir, entah karena olah gerak entah akibat menahan sakit. 

Latihan pertama itu membawa efek  cukup signifikan. Badan fresh, siang harinya jadi tidak ngantuk, meski tersisa rasa njarem di kaki. Merasa ada hasilnya, sayapun aktif ikut latihan setiap minggu. Bahkan saya tingkatkan menjadi dua kali, Minggu dan Rabu. Kulengkapi porsi olahraga ini dengan jalan kaki mengitari perumahan setiap pagi. 

Waktu berjalan sekitar lima pekan lebih, badan mulai terasa enteng dan nyaman. Saya bersyukur sekali sambil membatin dalam hati, “Alhamdulillah senangnya sudah sehat.” Sempat tebersit kebiasaan lama: saatnya membolang lagi. 

Ternyata cerita belum selesai. Jumat pagi kemarin, saat bangun tidur telapak kaki terasa sakit saat diangkat. Saya sudah hafal gejalanya. Benar, siangnya sudah membengkak dan cekot-cekot. Ya Allah, kumat lagi. Mungkin saja saya sudah kadung tercatat menjadi “member” tetap asam urat. 

Kenapa masih kambuh lagi, setelah saya terapi dengan senam dan banyak jalan kaki? Juga sudah kuimbangi minum godogan daun salam campur jahe dan daun sere. Termasuk minum serbuk daun kelor, tapi akhirnya tidak doyan karena aromanya mirip tembakau apek. Diet makanan juga relatif terjaga karena akhir-akhir ini saya jarang makan di luar rumah. 

Bila penyebabnya bukan makanan, lalu apa? Mungkin pikiran. Ya, kayaknya saya memang banyak pikiran. Mikir kerjaan juga macam-macam lainnya (endi ana wong urip gak mikir?). Pekerjaan-pekerjaan yang deadlinenya berbarengan mungkin menjadi faktor pemicunya. 

Ya sudahlah, syukuri saja. Kayaknya saya disuruh istirahat sembari menikmati rasa sakit yang ada. Lalu mencoba belajar melambat, ngeslow, dan mau setel kendo dalam menyikapi keadaan.  Nanti kalau sudah sembuh, ya budal olahraga lagi. 

(adrionomatabaru.blogspot.com)


 

Previous
Next Post »