CAK AGUS MUGI BERKAH

 

Persaudaraan itu bukan melulu karena pertalian darah. Dia bisa tercipta karena pertemuan hati dan sambungnya rasa. Begitulah yang kami alami dengan keluarga besar alumni Bisdesa (pendidikan bisnis delapan satu) IKIP Negeri Malang. 

Maka begitu terbetik kabar Pak Guru Agus Syaijud Kediri punya  gawe mantu, kami segera menemukan dua momen istimewa. Pertama, bisa hadir memberi hormat dan doa restu. Kedua, bisa reuni tipis-tipis. Jauh-jauh dari Sumenep, Muzammil mbelani datang. Dari  Tulungagung, Malang, Blitar, Nganjuk, teman-teman juga bergegas menuju titik kumpul. 

Nah kan, belum sampai ke lokasi kondangan, senangnya sudah tak karuan. Nglumpuk di rumahnya Pak Zadjuli dan Bu Rini. Ngobrol lepas tanpa tema. Tentang kekonyolan masa sekolah sambil nggayemi panganan tanpa henti. Bincangkan pisang calvendish, ledek Jimbe, hingga cangklong rokok berbahan tulang kiri kelelawar. 

Tapi satu topik yang mesti tidak ketinggalan: ngomongin penyakit. Asam lambung, jantung, sampai vertigo. Mungkin faktor yuswa ya. Di usia senja, kita memang kudu ekstra menjaga raga. Tidak lupa ngemong pikiran dan perasaan. Salah satu caranya, ya dengan berjumpa seperti ini.

Terus kapan reunine, Rek. Target: ke Sumenep, ya. (*)

adrionomatabaru.blogspot.com

 


 

Previous
Next Post »