BALIHO BAHASA KITA

 


Di pinggir jalan raya Sidoarjo arah Surabaya, di dekat pabrik Maspion II Buduran, terpampang baliho besar bergambar Mas Menteri Nadiem Makarim yang membawa pesan penting. Bunyinya, “Mari kita dukung gerakan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.” 

Sayang kemasannya kelewat yuridis formal sehingga kurang berdaya tarik. Tapi saya berusaha menangkap niat baik pembuatnya, yaitu Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Betapapun, imbauan itu patut dipedulikan, terutama bagi mereka yang aktif  memproduksi kata-kata (lisan maupun tulisan) untuk konsumsi umum. 

Sebenarnya, aslinya, saya pribadi yang kurang begitu peduli dengan ketertiban dalam berbahasa. Sebagai kreator malah kerap tergoda untuk menerabas aturan baku. Namun saya tercerahkan oleh penjelasan  Prof Djoko Saryono dalam webinar tentang pembakuan bahasa, belum lama ini. Awalnya saya ikut zoom tersebut hanya untuk kepentingan praktis. Supaya saat mengedit naskah, saya punya pegangan. 

Tapi dalam pertemuan tersebut guru besar bahasa Univeresitas Negeri Malang itu ternyata tidak sekadar menyoal bahasa baku, melainkan lebih menukik kepada arti pentingnya bahasa Indonesia. Paparannya mengusik kesadaran bahwa bahasa Indonesia adalah harta karun berharga. Bahkan Prof Djoko menegaskan: ini mukzizat yang dikaruniakan kepada kita sebagai bangsa merdeka.  Kehadirannya menjadi perekat pemersatu sekaligus alat komunikasi andalan di tengah negara yang memiliki 718 bahasa ibu/lokal, yang digunakan oleh 1.340 suku bangsa, yang tinggal di lebih dari 6.000 pulau berpenghuni. 

Tanpa menggunakan satu bahasa yang tertib pasti akan sulit berkomunikasi dan akan banyak terjadi kesalahpahaman. Salah satu butir Sumpah Pemuda, “menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia” adalah capaian puncak dari kesadaran berpolitik dan berbangsa yang berhasil dilakukan para pemuda saat itu. Menakjubkan. 

Perenungan semacam ini seyogyanya menerbitkan kesadaran bahwa bahasa Indonesia adalah warisan yang wajib dijaga dan dikembangkan. Ini bahasa yang besar di dunia karena digunakan oleh 270 juta lebih warga negara.   

Salah satu bentuk paling nyata dari kesediaan merawatnya adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Setidaknya ada upaya untuk mengungkapkan kalimat dalam kosa kata Indonesia. Bangga bila mampu mengungkapkan gagasan dengan alat komunikasi milik kita sendiri. Bukan malah bicara atau menulis dengan bertabur  istilah asing hanya supaya terlihat hebat dan keren. Mengapa harus menulis judul berita: “Gunung Semeru Erupsi, Warga Dievakuasi”? Apakah kalimat “Gunung Semeru Meletus, Warga Diungsikan” dirasa kurang mengena? 

Pemakaian bahasa nasional sesuai kaidah menjadi tanggung jawab bersama dan pekerjaan besar yang berkelanjutan. Apalagi pergaulan manusia semakin mengglobal membuat lalu lintas pertukaran bahasan semakin tinggi. Memang tidak mudah, perlu proses dan upaya. Tetapi memiliki kesadaran untuk mau memakai bahasa sendiri, setidaknya mengurangai pemakaian istilah asing, sudah merupakan awalan yang baik. 

Jelas tidak memadai jika kita hanya mengandalkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek saja atau memasrahkan kepada guru bahasa   Indonesia. Ini tanggung jawab bersama, lebih-lebih bagi para pengguna aktif mulai dari penulis, pewarta, pembuat konten, pejabat, hingga tokoh masyarakat. Dengan demikian bahasa kita akan menjadi kuat dan memiliki daya ungkap yang sanggup mewadahi  letupan ide dan melayani kebutuhan penuturnya. 

Untunglah dalam praktiknya sejumlah upaya untuk mencari padanan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia mendapat sambutan positif dari masyarakat. Orang sudah terbiasa memakai kata “unggah” dan “unduh” untuk menggantikan istilah “download” dan “upload”. Memilih “narahubung” daripada “contac person”. Gadget menjadi gawai, marketplace menjadi lokapasar. Kata daring (dalam jejaring) juga sama populernya dengan kata online. 

Kementerian Olahraga memasyarakatkan konsep “desain besar” olahraga nasional untuk padanan “grand design”. Laporan buatan institusi pemerintahan sudah lazim membuat judul “praktik baik” untuk pengertian “best practice”.   

Meski demikian cukup banyak usulan kata pengganti buatan Badan Bahasa yang tidak “laku” di lapangan, seperti “sangkil dan mangkus” untuk menggantikan “efektif dan efisien”.  Lantatur (layanan tanpa turun) untuk “drive thru” atau galat untuk padanan “error. 

Tantangannya memang berat. Banyak kata asing  yang berdatangan dan bersaing dengan kata pribumi. Dan celakanya kita lebih suka memenangkan si asing dengan sederet alasan: mulai yang ilmiah, kepraktisan, atau demi gagah-gagahan belaka. 

Untuk alasan ilmiah, tidak terhindarkan, memang ada sejumlah kata asing yang belum tertenemukan persamaan kata yang pas ke sini. Sebagai contoh dalam ekonomi akuntansi dikenal istilah likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas. Ini sederet  konsep yang agak sulit dicarikan padanannya. Juga dalam bidang statistik. Kata “asumsi” tidak bisa diganti begitu saja dengan “dugaan”, karena asumsi lebih dari sekadar dugaan. Kata “modus” jangan sampai dimaknai sebagai singkatan “modal dusta”. 

Tapi dalam banyak kasus, orang memakai istilah asing karena alasan praktis. Umpamanya, orang lebih gampang bilang “stress” ketimbang “tekanan batin” seperti yang dulu sering diucapkan oleh orang tua kita zaman dulu.  Soalnya “stress” cuma terdiri dari satu kata pendek. Orang juga lebih memilih “all size” daripada  “segala ukuran” atau “plan” ketimbang rencana. Bilang “rest area” tentu lebih ringkas daripada “tempat peristirahatan.” 

Celakanya istilah asing itu selalu terdengar lebih keren  di kuping. Dunia kuliner dapat dijadikan bukti yang gamblang. Nyaris semua menu bila dibahasainggriskan jadi terkesan berkelas dan lebih menjual. Ayam goreng diganti fried chicken. Kentang goreng jadi french fries. 

Agaknya dalam upaya menciptakan padanan kata, perlu sekali mempertimbangkan aspek kepraktisan ini. Semakin pendek dan mudah diucap semakin cepat diterima. Orang pasti memakai kata “canggih” daripada harus melafalkan kata “sophisticated” atau “advance” yang bisa bikin keseleo lidah. 

Tentu membangun kecintaan kepada bahasa sendiri butuh proses dan kedewasaan. Siap dianggap tidak begitu berbobot atau kurang gaul karena ungkapan yang dilontarkan terkesan biasa-biasa saja.  Padahal bobot ucapan tidak bergantung kepada deretan istilah asing yang mentereng. 

Kalau cuma mau menyampaikan ucapan sepele kenapa harus pakai kata impor?  Baidewei, kapan kita meeting bahas acara reunian? Tapi jujurly, aku ilfil banget kalo ketemu dia. Kalo aku sih, iyes.

Waduh superkaco, pren.

 (adrionomatabaru.blogspot.com)

 

Previous
Next Post »