SERU-SERUAN DENGAN TETANGGA

 


Kini orang modern cenderung berkelompok berdasar kesamaan hobi atau profesi. Maka lahirlah kelompok pecinta ikan koi atau komunitas gowes sepeda tua. Berkelompok karena alasan kedekatan geografis tak lagi diminati, bahkan cederung diabaikan. 

Padahal dulu orang sangat bersahabat dengan tetangga dekat. Guyup rukun dengan orang sekampung. Ini membahagiaan dan menjadi perekat sosial yang menguatkan kehidupan sehari-hari. Dengan tetanggalah kita butuh, ketika tiba-tiba jatuh sakit. Kepada tetangga kita sambat ketika tiba-tiba ada kebutuhan mendesak. 

Minggu kemarin, kami mencoba kembali merasakan kegembiraan hidup bertetangga, srawung bersama warga tunggal RT dengan berwisata ke BoonPring, Turen, Malang. Kegiatan ini juga merupakan agenda refreshing kami sebagai anggota bank sampah Sadidu Amanah. 

Dalam kelompok heterogen segera tertemukan suasana yang lain.  Aneka latar belakang lebur berbaur. Ada orang kantoran ketemu pekerja embongan, usaha kulineran, hingga dagang onlinenan. Ada pensiunan hingga setengah pengangguran. Jangan lupa, anak-anak milenial dan gen Z juga turut serta. 

Baru perjalanan di atas naik bus sudah terasa kehebohannya. Menyanyi karaokean dan main kuis berhadiah sudah bikin senang. Tebak-tebakan zaman jadul pun kembali muncul. Misal: “pucuk lancip, pangkal lancip, apa itu?” Bu Ali menjawab, “bolot…!” (hahaha… nggilani). “Iwak opo sing gak iso diiris?” Ternyata iwak kecap (ini tebak-tebakan ala orang-orang kos, yang hanya mampu makan dengan lauk kecap). 

Kalau hanya berwisata bersama, orang masih cenderung bergerombol dengan sesama anggota keluarganya sendiri. Maka cara yang efektif untuk membaurkan mereka adalah melalui fun game atau diajak main outbond-outbonan. 

Betul kan, dengan “ice breaking” tepuk nyamuk saja sudah bikin semua ketawa ngakak. Lomba yel-yel antarkelompok sudah dapat dijadikan bahan saling gojlok yang meriah. Kegembiraan pun menguar saat melihat ulah lucu peserta dan kesalahan kecil yang terjadi saat game estafet karet gelang dengan menggunakan sedotan plastik. O, tiba-tiba kami merasa telah menjadi satu keluarga besar yang hangat. 

Akan tetapi kegiatan seperti ini ternyata ada konsekuensinya. Orang-orang jadi kepingin minta membolang lagi. “Bagaimana kalau diagendakan rekreasi seminggu sekali?,” goda saya. Hehehe..  iso jebol bandare.  

Terbukti sudah. Seru-seruan dengan tetangga tetaplah perlu. Berkelompok dengan basis kedekatan tempat tinggal seyogyanya jangan ditinggalkan. (adrionomatabaru.blogspot.com)



 

Previous
Next Post »