DIPLOMASI NONCORONA




Terampil diplomasi itu penting. Setidaknya dua kisah  berikut ini menjadi bukti.

Kisah pertama.
Zaman dahulu ada seorang penguasa yang gemar beristri. Meski koleksinya sudah banyak toh dia masih ingin terus menambah. Begitu terbetik berita ada satu kembang desa di wilayah kekuasaaannya diapun bergegas menelisik keberadaannya.

Kepada pemuda desa, dia bertanya: “apa yang kamu ketahui tentang tetanggamu itu?”
“Dia cantik. Silakan ambil sebagai isteri. Tetapi setahu saya wanita itu sudah berkali-kali dicium laki-laki,” jawab pemuda itu dengan santun. Maka penguasa itu pun hilang selera.

Tapi setelah sekian tahun kemudian, sang penguasa mendengar  kabar ternyata perempuan itu telah dinikahi oleh pemuda yang dulu ditanyai. Maka diapun pun protes.

“Kenapa kamu menikah dengannya? Di mana harga dirimu?”
“Dulu dia memang pernah dicium laki-laki. Tapi ketahuilah, laki-laki itu adalah ayah kandungnya sendiri,” jawab pemuda mengunci. Skak mat.

Kisah kedua.
Seorang suami  saat hendak dinas keluar kota berpesan kepada isterinya agar merawat mertua laki-laki satu-satunya yang masih hidup. “Selama saya tinggal pergi, kamu harus sabar meladeni orang tua. Turuti saja kemauannya. Namanya orangtua, kadang yang diminta aneh-aneh,” pesannya.

Istrinya mengangguk. Maka dirawatnya bapak mertua itu dengan baik. Pagi disiapkan kopi. Sore disiapkan teh dan camilan. Begitulah berlangsung beberapa hari.  Sampai akhirnya mertua mengaku bosan dengan wedang kopi dan teh. Dia minta susu. Menantunya patuh. Saat petang disodorkan secangkir susu hangat.  Tapi si mertua menggeleng.

“Lho, katanya minta susu?”
“Bukan itu?” kata mertua merajuk.
“Terus susu apa?”
“Yang itu,” katanya sambil menuding dada menantunya. Kurang ajar, jabang bayik! Ingin dia marah tetapi segera teringat pesan suaminya. Maka dia terpaksa menuruti dengan berat hati. Tak lupa diajukan janji, bolehnya cuman sekali.

Saat suami pulang dinas, istri mengadukan kelakuan tidak senonoh mertuanya. Sang suami spontan emosi. Dilabraknya sang ayah lalu dimaki-maki dengan nada tinggi.

“Bapak, benar-benar keterlaluan,” katanya sambil berupaya menguasai diri.
“Cuma sekali saja kok kamu sudah marah-marah kayak gitu,” jawab ayahnya.
“Iya, tapi itu kurang ajar, Pak.”
“Cuma nyusu sekali sudah dimarahi. Dulu kamu juga menyusu ke isteriku, dua tahun, aku ndak marah-marah,” katanya mengunci. Skak mat lagi. hahaha.....

Nah kan, terampil diplomasi itu penting. Tapi saya ndak tahu, itu baik apa buruk.
Tombo stress, gaezz.....

(adrionomatabaru.blogspot.com)
Foto:kompas.com. 

Previous
Next Post »