MENCOBA HAIKU


Gara-gara disarankan Mas Kurniawan Junaedhie gabung ke grup NEWHAIKU INDONESIA di
Facebook, saya jadi mendapat keasyikan baru: belajar bikin haiku. Saya belum tahu banyak tentang haiku, tapi persinggungan awal dengannya membuat saya langsung terpikat. 

Sedangkal yang saya ketahui haiku adalah jenis puisi pendek dari khasanah sastra klasik Jepang. Konon sudah dibikin sejak tiga abad lampau. Akhir-akhir ini haiku makin digemari dan melebar ke banyak penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Haiku kayaknya juga kompatebel dengan selera orang di zaman medsos, yang agak enggan dengan teks panjang-panjang. 

Disebut puisi pendek karena haiku hanya terdiri dari tiga larik. Uniknya ada aturan lagi. Larik pertama harus lima suku kata, larik kedua tujuh suku kata, dan larik ketiga kembali lima suku kata. Satu tidak tahu persis kenapa harus pakai rumus 5-7-5 segala. 

Tetapi saya manut saja dan menganggap itu sudah kaidah dari sononya. Sama halnya dengan kenapa di dalam pantun wajib ada unsur sampiran dan isi pantun, ada rima dan akhiran yang serupa.  Atau pada genre Gurindam 12 harus ada dua baris di setiap baitnya. Tiap baris terdiri dari 10-14 kata. Bagi saya semua itu kekayaan khasanah budaya suatu bangsa yang perlu dihargai. Dengan rule of the game ”ketat” seperti itu, justru membuat saya jadi tertantang untuk tiru-tiru bikin haiku. Asyik juga kayaknya. 

Karakteristik berikutnya yang juga tidak kalah unik adalah, haiku justru menghindari majas dan pola ucap yang biasa digunakan dalam puisi pada umumnya. Haiku tidak menghendaki kalimat bersayap, kata sifat, konotatif, atau ungkapan simbolis maupun metafora. Dia lebih memilih diksi yang  denotatif, kata yang bermakna apa adanya sesuai hasil tangkapan alat indera, impresif, dan sederhana. 

Pada aspek inilah saya tertarik. Maklum saya berlatar belakang jurnalis. Jadi  terbiasa menulis berita yang memang memakai  kalimat kata lugas, populer, dan bermakna tunggal. Boleh jadi saya bakal berjodoh dengan haiku. 

Meski saya penulis nonfiksi (esai, artikel, feature, biografi), saya gemar mengonsumsi puisi. Dengan catatan puisi yang”terang-terang” saja, sehingga dapat  kunikmati, seperti karya WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, atau KH Mustafa Bisri. Menurutku, bagaimanapun puisi adalah medium komunikasi. Jadi kalau ada puisi dengan kalimat “mbulet” tingkat dewa, sehingga tidak bisa dipahami pembaca, itu berarti proses komunikasi telah gagal. 

Maka haiku memberi peluang buat orang sepertiku. Lalu beberapa hari ini, saya jadi sibuk belajar menangkap momen sesaat (present moment) yang dapat dijadikan bahan pokok haiku. Kemudian pikiran mereka-reka kalimat yang bakal tersaji, sembari menghitung-hitung jumlah suku kata dengan menggunakan jari-jari tangan --kok jadinya seperti orang sedang wiridan ya. 

Bersamaan dengan itu memasukkan unsur kigo pada salah satu larik haiku. Kigo adalah kata penanda musim atau waktu. Misalnya: kemarau, senja, laron, purnama, atau hari pahlawan. Kigo ini sekaligus memberikan kabar bahwa para haijin (penyair haiku) zaman dulu memiliki hubungan batin yang erat dengan musim dan waktu yang melingkupinya. 

Tidak lupa menghadirkan kireji yang artinya kalimat pemotong, hingga menghasilkan efek makna tertentu, serta memberi sebagian ruang bagi imaji dan tafsir pembaca haiku.  Berikut ini adalah karya saya, yang masih receh tentunya:

 1/

hujan semalam

jambu air berserak_

merah merona

 2/

bungkusan nasi

silakan ambil gratis_

o Jumat berkah

 3/

hari pahlawan

bergegas unggah twibbon_

menunggu jempol

Untuk haiku ketiga, Mbak Dyah NKusuma bilang itu bukan haiku, melainkan senryu. Nah, ini genre yang lain lagi. Senryu agak beda dengan haiku, isinya lebih bermuatan kritik sosial, ironi, humor, romatisme, atau satire. 

Menulis haiku ternyata menjadi selingan yang sehat, di samping menulis nonfiksi yang memang kegiatan mencari nafkah. Mungkin mirip pemain bola, sekali tempo juga perlu menjajal cabor renang atau catur. Jika kegembiraan bisa dicapai dengan berolah raga, maka kesenangan pun dapat kita peroleh dengan aktivitas berolah kata.  

Tapi saya tidak tahu apakah menulis haiku ini akan menjadi kesenangan sesaat atau jadi addict berat. Yang jelas saya sedang bersuka cita membuat haiku, juga senryu. Dari situ saya mendapatkan ilmu baru dan teman-teman haijin baru. Lalu jadi menghargai kejadian kecil, impresi sekejap, kosa kata sederhana, yang ternyata begitu bermakna, memantulkan gema, dan berkilau indah. 

(adrionomatabaru.blogspot.com) 
Previous
Next Post »