Masih tentang Ebiet G. Ade (EGA).
Gara-gara turut menyiapkan penerbitan buku “Ebiet di Mata Penggemar” bersama
mas Supriadi, Kak Miko, Mas Hari Goen, dan Ustaz bayhaqi, saya menjadi tahu aneka
tingkah orang yang mengidolakan EGA. Mulai dari yang level kekaguman yang
wajar, yang lucu, hingga perilaku fans yang agak unik.
Dari 22 album yang dirilis Ebiet, ada fans yang punya koleksi hingga 300 unit lebih, dalam bentuk pita kaset, CD, DVD/VCD, vinyl, hingga piringan hitam. Begitu kagum kepada Ebiet, mereka aktif memburu di manapun musisi pujaannya itu tampil. Bila perlu dikejar pakai sepeda motor meskipun lintas provinsi.
Mereka juga menghimpun diri dengan komunitas sehobi, di bawah bendera “Membumi Bersama (MemBers) EGA.” Lantas meramaikan media sosial lewat podcast, smule, maupun live streaming lewat acara “Membara” alias Ngebiet bersama di udara.
Tetapi ada juga penggemar yang unik. Bukti cintanya diwujudkan dengan memberi nama anaknya persis dengan nama asli Ebiet. Saat punya anak perempuan dikasih nama Camellia. Malah ada yang nekad memberi nama anak dengan judul lagu “Cinta Sebening Embun.” Dan masih banyak lagi keunikan yang lain.
Sampai di situ saya jadi kepo: mengapa ya ada orang bisa tergila-gila seperti itu? Agaknya setiap manusia memang membutuhkan dua sosok: satu untuk dipuji dan satu lagi untuk dicaci. Apa boleh buat, dua sisi hitam-putih ini memang manusiawi dan punya akar psikologis yang mendasari.
Orang perlu sosok idola untuk dipuja karena dapat menghadirkan rasa bahagia. Dia seakan mewakili diri ideal (ideal self) para penggemarnya. Sang idola menjadi tempat menaruh harapan dan untuk memenuhi impian sekian banyak penggemarnya.
Bahkan para fans kadang menjalani hidup lewat idolanya. Wajar jika sang idola melambai tangan saja, para fans merespons gembira bahkan histeria. Tatkala dia mendapatkan penghargaan, fans juga ikut mendapatkan getar rasa bahagianya.
Sebaliknya, orang juga “butuh” sosok yang dapat dicaci sebagai katarsis melampiaskan emosi. Setidaknya sebagai obat penghibur hati, bahwa keberadaan kita tidak seburuk orang yang kita caci itu. Sebuah tindakan yang dapat membuahkan kelegaan (meski sesaat dan semu).
Fenomena “lover” dan “hater”
muncul karena menyentuh identitas, nilai, maupun emosi personal kita.
(adrionomatabaru.blogspot.com)
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon